Album

Loading...

Jumat, 07 Desember 2012

MARI BERFILSAFAT

FILSAFAT PENDIDIKAN
DIMENSI MANUSIA DAN PENDIDIKAN
A. Defenisi Dimensi 
    Dimensi berarti parameter atau pengukuran yang dibutuhkan untuk mendefinisikan sifat-sifat suatu objek yaitu panjang, lebar, dan tinggi atau ukuran dan bentuk. Dalam matematika dan fisika, dimensi adalah parameter yang dibutuhkan untuk menggambarkan posisi dan sifat-sifat objek dalam suatu ruang. Dalam konteks khusus, satuan ukur dapat pula disebut "dimensi"-meter atau inci dalam model geografi, atau biaya dan harga dalam model ekonomi.
B. Defenisi Manusia 
Manusia dapat didefenisikan berbeda-beda menurut biologis, rohani, dan istilah kebudayaan, atau secara campuran. Secara biologis, manusia diklasifikasikan sebagai Homo sapiens (Bahasa Latin untuk manusia) berarti sebuah spesies primata dari golongan mamalia yang dilengkapi otak berkemampuan tinggi. Dalam hal kerohanian, manusia dijelaskan menggunakan konsep jiwa yang bervariasi di mana, dalam agama, dimengerti dalam hubungannya dengan kekuatan ketuhanan atau makhluk hidup. Dalam mitos, mereka juga seringkali dibandingkan dengan ras lain. Dalam antropologi kebudayaan, manusia dijelaskan berdasarkan penggunaan bahasanya, organisasi manusia dalam masyarakat majemuk serta perkembangan teknologinya, dan terutama berdasarkan kemampuannya untuk membentuk kelompok dan lembaga untuk dukungan satu sama lain serta pertolongan.
Penggolongan manusia yang paling utama adalah berdasarkan jenis kelaminnyaa. Selain itu masih banyak penggolongan-penggolongan yang lainnya, berdasarkan ciri-ciri fisik (warna kulit, rambut, mata; bentuk hidung; tinggi badan), afiliasi sosio-politik-agama (penganut agama/kepercayaan XYZ, warga negara XYZ, anggota partai XYZ), hubungan kekerabatan (keluarga: keluarga dekat, keluarga jauh, keluarga tiri, keluarga angkat, keluarga asuh; teman; musuh) dan lain sebagainya.
C. Dimensi Manusia
    Dimensi manusia dapat didefenisikan sebagai parameter atau pengukuran yang dibutuhkan untuk mendefinisikan manusia baik dari biologis, rohani, dan istilah kebudayaan, atau secara campuran (jenis kelamin, ciri-ciri fisik, afiliasi sosio-politik-agama, hubungan kekerabatan).
Kerohanian Dan Agama
    Bagi kebanyakan manusia, kerohanian dan agama memainkan peran utama dalam kehidupan mereka. Sering dalam konteks ini, manusia tersebut dianggap sebagai "orang manusia" terdiri dari sebuah tubuh, pikiran, dan juga sebuah roh atau jiwa yang kadang memiliki arti lebih daripada tubuh itu sendiri dan bahkan kematian. Seperti juga sering dikatakan bahwa jiwa (bukan otak ragawi) adalah letak sebenarnya dari kesadaran (meski tak ada perdebatan bahwa otak memiliki pengaruh penting terhadap kesadaran). Keberadaan jiwa manusia tak dibuktikan ataupun ditegaskan, konsep tersebut disetujui oleh sebagian orang dan ditolak oleh lainnya. Juga, adalah perdebatan di antara organisasi agama mengenai benar/tidaknya hewan memiliki jiwa, beberapa percaya mereka memilikinya. Sementara lainnya percaya bahwa jiwa semata-mata hanya milik manusia, serta ada juga yang percaya akan jiwa kelompok yang diadakan oleh komunitas hewani dan bukanlah individu.
    Kerohanian dan agama mendapat ekspresi dalam bentuk tertentu. Elemen-elemen ini dapat menggabungkan secara penting pengalaman pribadi dengan pengalaman penyatuan dan komunal, seringkali membangkitkan emosi yang sangat kuat dan bahkan luapan kegembiraan. Agama dapat pula berperilaku sebagai alat penyaluran dan pengaruh dari norma budaya dunia dan tingkah laku yang wajar dilakukan manusia.
Kebudayaan
    Penampilan fisik tubuh manusia adalah pusat kebudayaan dan kesenian. Dalam setiap kebudayaan manusia, orang gemar memperindah tubuhnya, dengan tato, kosmetik, pakaian, perhiasan atau ornamen serupa. Model rambut juga mempunyai pengertian kebudayaan penting. Kecantikan atau keburukan rupa adalah kesan kuat subjektif dari penampilan seseorang. Kebutuhan individu terhadap makanan dan minuman teratur secara jelas tercermin dalam kebudayaan manusia.
Makna Menjadi Manusia
Manusia kaya arti kehadirannya sangat diharapkan karena selalu membawa manfaat. Sebaliknya, jika dia tidak ada maka banyak orang yang mencari-carinya. Manusia seperti ini dalam melakukan pekerjaan atau tugas sangat profesional dalam artian mampu mengerjakan tugas yang menjadi tanggung jawabnya dengan baik dan benar sesuai waktu yang telah ditentukan. Selain itu moralnya juga baik, disiplin, gemar membantu, santun, budi pekertinya baik dan bisa diajak bekerjasama dalam kebaikan. Lawan manusia kaya arti adalah manusia rusak arti.
Antara manusia kaya arti dan rusak arti terdapat manusia yang hampa arti. Manusia seperti ini hadir atau tidak hadir? tak terlalu berpengaruh terhadap lingkungannya. Ketika berada di kantor dia hanya duduk-duduk ngobrol, ngalor-ngidul kemudian pamit keluar kantor. Jika mendapat tugas dia mengerjakannya secara asal-asalan, sekedar menggugurkan kewajiban belaka. Moralnya, displin dan budi pekertinya berada diantara baik dan buruk sehingga perlu untuk terus-menerus diawasi serta diperingatkan.
Setiap manusia tentunya ingin menjadi yang kaya arti sesuai dengan kemampuannya masing-masing. Kemampuan manusia untuk menggunakan akal dalam memahami lingkungannya merupakan potensi dasar yang memungkinkan manusia berfikir, dengan berfikir manusia menjadi mampu melakukan perubahan dalam dirinya, dan sebagian besar perubahan dalam diri manusia merupakan akibat dari aktivitas berfikir.
Pernyataan di atas menggambarkan keagungan manusia berkaitan dengan karakteristik eksistensial manusia sebagai upaya memaknai kehidupannya dan sebagai bagian dari alam ini. Dalam konteks perbandingan dengan bagian-bagian alam lainnya, para ahli telah banyak mengkaji perbedaan antara manusia dengan makhluk-makhluk lainnya terutama dengan makhluk yang agak dekat dengan manusia yaitu hewan.
Beberapa defenisi manusia yang dikemukakan para ahli yaitu :
• Plato (427-348). Dalam pandangan Plato manusia dilihat secara dualistik yaitu unsur jasad dan unsur jiwa, jasad akan musnah sedangkan jiwa tidak, jiwa mempunyai tiga fungsi (kekuatan) yaitu logystikon (berfikir/rasional, thymoeides (keberanian), dan epithymetikon (keinginan).
• Aristoteles (384-322 SM). Manusia itu adalah hewan yang berakal sehat, mengeluarkan pendapatnya, berbicara berdasarkan akal fikirannya. Manusia itu adalah hewan yang berpolitik (zoon politicon/political animal), hewan yang membangun masyarakat di atas famili-famili menjadi pengelompokan impersonal dari pada kampung dan negara.
• Ibnu Sina (980-1037 M). Manusia adalah makhluk yang mempunyai kesanggupan : 1) makan, 2) tumbuh, 3) berkembang biak, 4) pengamatan hal-hal istimewa, 5) pergerakan di bawah kekuasaan, 6) ketahuan (pengetahuan tentang) hal-hal yang umum, dan 7) kehendak bebas. Menurut dia, tumbuhan hanya mempunyai kesanggupan 1, 2, dan 3, serta hewan mempunyai kesanggupan 1, 2, 3, 4, dan 5.
• Ibnu Khaldun (1332 – 1406). Manusia adalah hewan dengan kesanggupan berpikir, kesanggupan ini merupakan sumber dari kesempurnaan dan puncak dari segala kemulyaan dan ketinggian di atas makhluk-makhluk lain.
• Ibnu Miskawaih. Menyatakan bahwa manusia adalah makhluk yang mempunyai kekuatan-kekuatan yaitu : 1) Al Quwwatul Aqliyah (kekuatan berfikir/akal), 2) Al Quwwatul Godhbiyyah (Marah, 3) Al Quwwatu Syahwiyah (sahwat).
• Harold H. Titus menyatakan : Man is an animal organism, it is true but he is able to study himself as organism and to compare and interpret living forms and to inquire about the meaning of human existence.
• William E. Hocking menyatakan : Man can be defined as the animal who thinks in term of totalities.
• C.E.M. Joad. Menyatakan : every thing and every creature in the world except man acts as it must, or act as it pleased, man alone act on occasion as he ought.
• R.F. Beerling. Menyatakan bahwa manusia itu tukang bertanya. Dari uraian dan berbagai definisi tersebut di atas dapatlah ditarik beberapa kesimpulan tentang siapa itu manusia yaitu: 1. Secara fisikal, manusia sejenis hewan juga; 2. Manusia punya kemampuan untuk bertanya; 3. Manusia punya kemampuan untuk berpengetahuan; 4. Manusia punya kemauan bebas; 5. Manusia bisa berperilaku sesuai norma (bermoral); 6. Manusia adalah makhluk yang bermasyarakat dan berbudaya; 7. Manusia punya kemampuan berfikir reflektif dalam totalitas dengan sadar diri; 8. Manusia adalah makhluk yang punya kemampuan untuk percaya pada Tuhan.
Bila dibagankan menurut pendapat diatas akan diperoleh sebagai berikut :
Manusia Hewani/Badani
Insani/Manusiawi
Jasad/Fisik/Biologis Jiwa/Akal/Rohani
Makan Berfikir
Minum Berpengetahuan
Tumbuh Bermasyarakat
Berkembangbiak Berbudaya/Beretika/Bertuhan
(Disebut Sebagai Dimensi-Dimensi Manusia)
Dengan demikian dapat dilihat perbedaan sekaligus persamaan antara manusia dengan makhluk lain khususnya hewan, secara fisikal/biologis perbedaan manusia dengan hewan lebih bersifat gradual dan tidak prinsipil, sedangkan dalam aspek kemampuan berfikir, bermasyarakat dan berbudaya, serta bertuhan perbedaannya sangat asasi/prinsipil.
D. Pendidikan
    Pendidikan adalah usaha sadar dan terencana untuk mewujudkan suasana belajar dan proses pembelajaran agar peserta didik secara aktif mengembangkan potensi dirinya untuk memiliki kekuatan spiritual keagamaan, pengendalian diri, kepribadian, kecerdasan, akhlak mulia, serta keterampilan yang diperlukan dirinya dan masyarakat. Pendidikan biasanya berawal pada saat seorang bayi itu dilahirkan dan berlangsung seumur hidup. Pendidikan bisa saja berawal dari sebelum bayi lahir seperti yang dilakukan oleh banyak orang dengan memainkan musik dan membaca kepada bayi dalam kandungan dengan harapan ia akan bisa (mengajar) bayi mereka sebelum kelahiran.
    Perkembangan pendidikan manusia akan berpengaruh terhadap dinamika sosial-budaya masyarakatnya. Sejalan dengan itu, pendidikan akan terus mengalami perkembangan sesuai dengan perkembangan kebudayaan. Banyak pendapat para tokoh  pendidikan yang kemudian berdampak terhadap peradaban manusia. Dari masa perkembangan peradaban kuno sampai munculnya abad “pencerahan†(renaisance) di eropa, bidang pendidikan mendapat tempat utama dan strategis dalam kehidupan pemerintahan.
Penyelenggaraan pendidikan saat ini harus diupayakan untuk memberikan pelayanan khusus kepada peserta didik yang mempunyai kreativitas dan juga keberbakatan yang berbeda agar tujuan pendidikan dapat diarahkan menjadi lebih baik. Muhibbin Syah menjelaskan bahwa akar kata dari pendidikan adalah “didik” atau “mendidik” yang secara harafiah diartikan memelihara dan memberi latihan. Sedangkan “pendidikan” merupakan tahapan-tahapan kegiatan mengubah sikap dan perilaku seseorang atau sekelompok orang melalui upaya pelatihan dan pengajaran. Hal ini mengindikasikan bahwa pendidikan tidak dapat lepas dari pengajaran. Ada tiga faktor penyebab rendahnya mutu pendidikan yaitu :
1) kebijakan dan penyelenggaraan pendidikan nasional menggunakan pendekatan educational production function atau input-input analisis yang tidak konsisten.
2) penyelenggaraan pendidikan dilakukan secara sentralistik
3) peran serta masyarakat khususnya orang tua siswa dalam penyelenggaraan pendidikan sangat minim (Husaini Usman, 2002). 
    Menurut UNESCO, badan PBB yang menangani bidang pendidikan menyerukan kepada seluruh  bangsa-bangsa di dunia bahwa jika ingin membangun dan berusaha memperbaiki keadaan seluruh bangsa, maka haruslah dari pendidikan. Karena pendidikan adalah kunci menuju perbaikan terhadap peradaban. Oleh karena itu UNESCO merumuskan bahwa pendidikan itu adalah :
1. Learning how to think (Belajar bagaimana berpikir)
2. Learning how to do (Belajar bagaimana melakukan)
3. Learning how to be (Belajar bagaimana menjadi)
4. Learning how to learn (Belajar bagaimana belajar)
5. Learning how to live together (Belajar bagaimana hidup bersama)
Sehingga nyata bahwa pendidikan adalah sesuatu yang sangat penting dan mutlak bagi umat manusia.
    Pendidikan dalam prosesnya tidaklah sekedar transfer ilmu pengetahuan (transfer of knowledge). Tujuan pendidikan sesungguhnya menciptakan pribadi yang memiliki sikap dan kepribadian yang positif. Peserta didik dalam pendidikan yang merupakan titik fokus strategis karena kepadanyalah bahan ajar melalui sebuah proses pengajaran diberikan. Pendidikan yang terjadi bagi peserta didik, didalamnya terdapat kreativitas dan kecerdasan serta adanya motivasi yang mempengaruhi berhasilnya pendidikan tersebut. Kreativitas adalah proses merasakan dan mengamati adanya masalah, membuat dugaan tentang kekurangan (masalah) ini, menilai dan mengujinya. Proses kreativitas dalam perwujudannya memerlukan dorongan (motivasi intristik) maupun dorongan eksternal.
Hakekatnya, teori psikologi pendidikan terbaru menghasilkan revolusi paradigma pemikiran tentang konsep kecerdasan diajukan oleh Prof. Gardner yang mengidentifikasikan dalam diri setiap anak apabila dirinya terlahir dengan otak yang normal dalam arti tidak ada kerusakan pada susunan syarafnya, maka setidaknya terdapat delapan macam kecerdasan yang dimiliki oleh mereka. Delapan jenis kecerdasan antara lain :
1. Kecerdasan Naturalis (nature smart)
2. Kecerdasan Intrapersonal (self smart)
3. Kecerdasan Interpersonal (people smart)
4. Kecerdasan Musik (music smart)
5. Kecerdasan Kinestetis (body smart)
6. Kecerdasan Matematis (logic smart)
7. Kecerdasan Spasial (picture smart)
8. Kecerdasan Linguistik (word smart)
    Motivasi merupakan syarat mutlak untuk belajar dan mempengaruhi arah aktivitas yang dipilih serta intensitas keterlibatan seseorang dalam suatu aktivitas. Mc Clelland (dalam Sukadji dan Singgih-Salim, 2001) mengemukakan bahwa manusia dalam berinteraksi dengan lingkungannya dipengaruhi oleh motif. Tiga kelompok motif yang dikemukakan yaitu :
1. Motif untuk berhubungan dengan orang lain (Affiliation Motive).
2. Motif untuk berkuasa (Power Motive).
3. Motif untuk berprestasi.
    Berdasarkan uraian di atas terlihat jelas bahwa dimensi manusia berhubungan sangat erat dengan pendidikan yang membedakan manusia dari makhluk lainnya dalam kehidupan, terutama dalam dimensi manusia sebagai manusia yang berfikir dan berpengetahuan.

DAFTAR PUSTAKA
Atkinson, R. L., dkk., (1987), Pengantar Psikologi I, Penerbit Erlangga, Jakarta.

Cholil, Abdullah, (2007), Kiat Menata Keluarga, PT Elex Media Komputindo, Jakarta.

Leoni, Agustin, (2008), Pintar Psikotes & TPA, PT Tangga Pustaka, Jakarta.

http://www.blogpendidikan.subekti.com/2010/08/delapan-dimensi-kecerdasan-manusia.html (diakses pada hari Senin, 25 Oktober 2010).

http://tentangkomputerkita.blogspot.com/2010/01/manajemen-peningkatan-mutu-sekolah.html (diakses pada hari Senin, 25 Oktober 2010).

http://episentrum.com/artikel-psikologi/motivasi/#more-342 (diakses pada hari Selasa, 26 Oktober 2010).

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar